MENCEGAH KERUSAKAN LINGKUNGAN, SYARIAH JAWABAN TUNTASNYA


Oleh: Liza khairina

Pekerjaan yang ringan tapi sebenarnya awal persoalan besar adalah alibi penguasa untuk cuci tangan dari tanggung jawabnya terhadap rakyat. Istilah lainnya adalah "Mengkambinghitamkan orang lain untuk menutupi keburukan yang ada pada dirinya". Kalau bahasa konyolnya "Lempar sesuatu kemudian sembunyikan tangan".

Begitulah keadaan negeri kita. Negeri Indonesia yang katanya Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Para pejabatnya suka ngeles kalau urusan rakyat. Suka pencitraan seolah-olah peduli. Padahal jauh dari asalnya suka membenarkan sikap kedzalimannya dan menyalahkan rakyatnya atas semua kejadian yang menimpa negeri. Greget kan!

Bagaimana bisa penguasa tanpa bersalah melakukan konfrensi pers menanggapi peristiwa banjir dengan menyalahkan rakyatnya karena tidak buang sampah pada tempatnya. Emang banjir sesederhana itu? Ini banjir bukan satu-dua kali atau satu dua wilayah. Tapi hampir merata di seluruh negeri terdampak banjir. Masanyapun berulang-ulang sekalipun sudah ada upaya pencegahan dan mitigasi banjir untuk meminimalisir banjir. Ada apa sebenarnya dengan negeri ini? Banyak dosanyakah atau serakah?

Banjir adalah satu di antara tumpukan masalah yang diakibatkan menumpuknya dosa sebab serakah. Kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan rakyat ini adalah kekuasaan oligarki. Dimana segelintir orang menguasai kekayaan rakyat dan rakyat mau tidak mau menerima imbas buruknya. Semua ini karena Indonesia mengadopsi sistem Barat yang bertentangan dengan adat dan kehormatan nenek moyangnya. Kapitalisme demokrasi lah yang menyebabkan masalah umat silih berganti. Penderitaan terus datang bertubi-tubi. Termasuk banjir yang terjadi sebab deforestasi.

Fenomena penggundulan hutan, izin tambang yang mudah sebab praktik suap pejabat, alih fungsi lahan, pembangunan beton tanpa memikirkan dampak penghijauan adalah penyebab banjir dimana-mana. Pemerintah yang seenaknya dewe' menyerahkan penguasaan lingkungan pada pemodal besar menjadi pemicu kerusakan lingkungan. Akibatnya ketika curah hujan banyak dan lingkungan tidak cukup kuat menahan air, maka banjir akan menerjang pemukiman dan lagi-lagi rakyat yang jadi tumbal.  

Hal ini seharusnya menjadi kesadaran umat kalau penyebab pesoalan ini bukan murni ujian dari Yang Di Atas. Dimana manusia harus menerimanya dengan sabar. Tidak bisa demikian. Kita harus melek politik bahwa ini persoalan adalah tentang keserakahan penguasa. Demi memuaskan hawa nafsunya, mereka telah membuat kebijakan yang menyengsarakan pada masa depan rakyatnya. Regulasi yang tidak pro rakyat terus dibuat untuk menyenangkan tuannya hingga lupa pada tugas dan tanggung jawabnya pada rakyat yang mengangkatnya.

Berbeda dengan kekuasaan Islam yang dibangun di atas pondasi takwa individu, masyarakat dan negara. Kontrol umat terhadap kebijakan penguasa menjadi jalan perbaikan dan kebaikan. Penguasa yang terikat dengan syariah dituntut memutuskan suatu kebijakan dengan benar tidak bermaksiat. Begitupun rakyatnya. Mereka ikut juga membangun negara dengan memberi masukan dan aspirasi dari bawah yang notabene lebih banyak tahu tentang kebutuhan. Wawasan kebangsaan atas dasar iman terus terbuka lebar untuk kemajuan negara dan bangsa.

Penataan tataruang yang berdasarkan syariah tidak mungkin menjadi bencana berkepanjangan termasuk langganan banjir. Karena pemeliharaan lingkungan dalam hal ini hutan sebagai kepemilikan umum menjadi tanggung jawab bersama penguasa dan rakyat. Tidak akan diberikannya pada korporasi atau perseorangan untuk pembangunan atau lahan pertanian dll.


Sebagaimana dalam hadits nabi...

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ.

"Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput, air dan api." (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Begitu juga alih fungsi lahan tidak akan pernah terjadi dalam sistem Islam. Karena Islam tidak membolehkan mengubah fungsi tanah hidup dengan pembangunan yang jelas menghilangkan fungsi tanah itu sendiri. Begitu juga dengan defortasi yang jelas akan merusak lingkungan. Pohon-pohon besar yang berfungsi menyerap air dan menjadi paku bumi akan dilestarikan agar struktur tanah menjadi kuat menahan segala kemungkinan perubahan lempeng bumi yang nanti bisa menyebabkan bencana dan longsor.

Begitulah Islam menjaga alam dan kelestariannya yang semua untuk kebaikan manusia dan masa depan yang baik. Alam, kehidupan dan manusia akan berjalan dengan fungsinya masing-masing, saling memberikan kemanfaatan berdasarkan ketundukannya kepada Allah swt. 


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel