Indonesia Gelap, Butuh Cahaya Islam
Oleh: Finis (Penulis)
Belum setahun sejak logo Garuda dengan latar biru Peringatan Darurat mewarnai jagat maya, lambang itu kembali mengudara dengan latar hitam. Perubahan warna menjadi lebih suram ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja dan kekhawatiran publik terhadap kondisi tanah air semakin membuncah. (tirto.id,18/2/2025).
Tagar Peringatan Darurat berlatar hitam ini muncul menyusul tagar#IndonesiaGelap. Menurut temuan drone Emprit, kedua tagar ini mengusung narasi serupa dan kerap muncul bersamaan.
Beberapa isu yang diangkat lewat tagar ini termasuk soal kisruh LPG 3 kg, reformasi Polri, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemangkasan anggaran untuk program sosial dan kesejahteraan rakyat, masalah pendidikan, kesehatan, serta lapangan pekerjaan. (tirto.id,18/2/2025).
Aksi mahasiswa ini bukan hanya ramai di sosmed, bahkan aksi demo juga dilakukan secara serentak di beberapa wilayah di seluruh Indonesia.
Keprihatinan yang menimpa masyarakat saat ini membuat mahasiswa turun ke jalan. Harapan hidup lebih baik masyarakat pada pemimpin baru kini kian redup. 100 hari presiden baru memimpin, kondisi masyarakat semakin sulit dan mengkhawatirkan. Rakyat tak henti-hentinya disuguhi dengan kebijakan- kebijakan yang menyakitkan hati, mulai rencana kenaikan PPN, efisiensi anggaran layanan publik, kabinet gemoy, pendirian Danantara, ormas dan kampus olah tambang, PHK masal jelang Ramadan, pagar laut, dan setumpuk permasalahan yang lainnya yang sangat menyengsarakan rakyat.
Tuntutan-tuntutan mahasiswa terhadap kebijakan- kebijakan zalim penguasa tak akan mampu membawa ke arah perubahan yang sesungguhnya. Gonta-ganti pemimpin berkali-kali tanpa perubahan sistem, tidak akan membawa kebaikan di tengah masyarakat. Bahkan keterpurukan masyarakat semakin parah dan kezaliman semakin merajalela ketika sistem yang diterapkan tetap demokrasi sekuler-kapitalisme.
Perjuangan yang hanya berfokus menuntut ganti rezim terbukti tidak pernah mampu menghentikan kezaliman penguasa dan kerusakan masyarakat. Kondisi masyarakat semakin gelap. Ekonomi menurun, pengangguran semakin banyak, angka kemiskinan naik, tingkat kejahatan makin parah, korupsi makin masif, kondisi generasi kian was-was, dan setumpuk permasalahan lainnya. Akibat penerapan sistem sekuler demokrasi-kapitalisme dan meninggalkan aturan Allah SWT, kehidupan makin sempit dan jauh dari keberkahan.
Mahasiswa sebagai agen perubahan seharusnya memiliki kesadaran politik yang benar sehingga mampu memberikan solusi yang hakiki, yaitu yang berasal dari Islam. Sistem politik Islam memposisikan permasalahan sesuai pada tempatnya. Sistem politik Islam yang diimplementasikan institusi Khilafah memiliki empat pilar dalam mengatur negara. Yang pertama, kedaulatan di tangan syara'. Yang kedua, kekuasaan adalah milik umat. Yang ketiga, mengangkat satu khalifah adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin. Yang keempat, hanya khalifah yang berhak melakukan tabbani (adopsi) terhadap hukum-hukum syara'.
Hanya Khalifah yang berhak membuat UUD dan UU. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Hukmi lil Islam, di antara kemaslahatan yang akan dirasakan rakyat dari sistem politik Islam adalah kecurangan penguasa dalam menetapkan hukum bisa ditutup marena aturan yang diterapkan hanya aturan Allah SWT. Dalam sistem Islam, penguasa menerapkan hukum dengan tegas dan adil sesuai syariat Allah.
Mahasiswa seharusnya tidak sekadar menyuarakan perubahan dalam bingkai demokrasi karena "Indonesia Gelap" merupakan akibat tidak tunduknya pada syariat Islam. Mereka mencampakkan aturan Allah SWT dan justru menerapkan aturan buatan manusia yang rentan salah dan banyak kelemahan, yaitu sistem demokrasi-sekuler. Saatnya mahasiswa menjadi agen perubahan untuk mengemban risalah Islam dengan mengoreksi penguasa atas spirit amar makruf nahi munkar dan menawarkan solusi Islam.
Hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah akan mengubah kondisi masyarakat yang gelap menjadi cemerlang sebagaimana ketika peradaban Islam tegak dalam naungan Khilafah yang terbukti mampu menjadi mercusuar peradaban dunia selama 13 abad. Untuk membangun peradaban mulia tersebut, Rasulullah telah mencontohkan metode perjuangannya, yakni berjuang bersama Hizbu Rasul, kelompok dakwah Islam ideologis yang menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya asas dalam segala amalnya. Jalan inilah yang seharusnya ditempuh mahasiswa sehingga mereka akan mampu mengawal ke arah perubahan yang hakiki, yaitu penerapan Islam kaffah yang akan membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang peradaban mulia di bawah kalimat Tauhid. Wallahu a'lam.