RASULULLAH SAW PANUTAN DALAM BERTOLERANSI

 



Oleh : Inge Oktavia Nordiani

Dalam beberapa tahun ini kita sering mendengar di setiap agenda-agenda Pemerintahan salam yang diucapkan berbeda dengan salam yang biasanya. Salam yang diucapkan cukup beragam. Itulah yang dikenal dengan salam lintas agama. Pemerintah pun menganjurkan segenap masyarakat untuk menggunakan salam tersebut di setiap acara-acara besar. Seberapa urgen kah salam lintas agama ini?

Fenomena salam lintas agama ini menjadi perhatian berbagai pihak, terutama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada  28-31 Mei 2024, MUI menyelenggarakan kegiatan Ijtima Ulama komisi fatwa se-Indonesia. Tema yang diangkat dalam acara tersebut yaitu "Fatwa: Panduan Keagamaan untuk Kemaslahatan Umat. Kegiatan tersebut diikuti dan dihadiri oleh 654 peserta dari berbagai unsur dalam MUI, Ormas-ormas Islam, para peneliti dari berbagai Universitas dan lain sebagainya (Republika, 31 Mei 2024).

Salah satu hal yang diputuskan di dalam pertemuan tersebut adalah larangan atau pengharaman penggabungan ajaran berbagai agama termasuk pengucapan salam lintas agama dengan menyertakan salam berbagai agama. Hal yang demikian karena mengucapkan salam merupakan sebuah do'a yang bersifat ibadah. Penggabungan salam lintas agama yang dilakukan sementara ini bukan merupakan toleransi yang dibenarkan (Mui.or-id 04 Juni 2024).

Merespon fatwa MUI tentang haramnya salam lintas agama, maka Kementerian Agama (Kemenag RI) menilai salam lintas agama selama ini berkembang di kalangan masyarakat sebagai bagian dari praktik baik merawat kerukunan umat. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Kamarudin Amin juga mengatakan bahwa umat tahu bahwa aqidah urusan masing-masing dan secara sosiologis salam lintas agama perkuat kerukunan dan toleransi (Republika, 31 Mei 2024).

Sungguh perbincangan mengenai bab toleransi ini merupakan perbincangan yang tiada ujungnya. Masing-masing pihak memiliki argumentasi. Oleh karena itu merupakan sebuah kebijaksanaan bagi kita umat Islam untuk merujuk kepada tauladan yang terbaik sepanjang zaman yaitu Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Beliau yang mengajarkan umatnya arti dari toleran. Dalil mengenai toleransi telah digambarkan dalam QS. Al-Kaafirun: 6.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

Artinya: "Untukmu agamamu dan untuk lah agamaku".

Sebab turunnya ayat di atas bermula ketika masa-masa awal  Rasulullah Saw berdakwah secara terang-terangan di Mekah. Kafir Quraisy tidak serta-merta menerima dakwah Rasul Saw. Berbagai cara dan upaya dilakukan untuk menghalangi dakwah Nabi. Sampai pada suatu ketika kafir Quraisy menawarkan sebuah proposal kepada Rasulullah untuk berdamai dengan cara meminta Rasulullah Saw untuk menyembah Tuhan mereka dan merekapun akan menyembah Tuhannya Muhammad. Kemudian turunlah ayat di atas. Dari ayat di atas bisa kita ambil makna bahwa tidak boleh bertoleransi dalam masalah ibadah. Dengan kata lain tidak boleh mencampur-adukkan dalam masalah ibadah. 

Dalam masalah sosial Rasulullah Saw mencontohkan toleransi. Beberapa contoh Nabi dalam bertoleransi, antara lain: Pertama, Memberikan perlindungan pada non muslim. Telah jamak dalam kisahnya bagaimana Rasulullah Saw dapat menghimpun segenap masyarakat untuk hidup damai. Beliau membangun peradaban  di Madinah. Di Sana masyarakatnya majemuk baik dari agama maupun suku-sukunya. Bahkan Rasulullah bersabda "Siapapun yang menzalimi orang non muslim yang tinggal di negerinya maka aku akan menjadi musuhnya pada hari kiamat".

Kedua, memberikan bantuan pada non muslim. Sikap empati Rasulullah Saw sangat tinggi terhadap orang non muslim yang sedang memerlukan bantuan. Rasulullah Saw tidak memilih-milih dan tidak memandang agama karena letak dari rasa kemanusiaan itu tidak ada sekat apapun terkecuali kondisi yang dibahas di dalam syariat. 

Ketiga, menerima kedatangan delegasi non muslim. Rasulullah pernah melakukan penerimaan delegasi non muslim dari berbagai negara. Beliau memperlakukan dengan baik para delegasi tersebut. 

Keempat, menghormati agama lain. Rasulullah Saw senantiasa menghormati agama-agama lain. Dahulu Rasulullah pernah bertemu dengan seorang pengemis yang sedang memegang patung dan menyembahnya melihat hal tersebut Rasulullah tidak menghinanya melainkan memberikan nasihat dan menunjukkan akan pentingnya mengenal dan beribadah hanya kepada Allah SWT. 

Demikianlah Rasulullah Saw sebagai tauladan nomor wahid. Tentunya harus kita jadikan rujukan secara keseluruhan baik dari aktivitas, ucapan maupun sikapnya. Beliau adalah sosok santun dan toleran atas berbagai perbedaan dan keragaman manusia. Oleh karena itu salam lintas agama hakikatnya adalah wujud dari toleransi yang Kebablasan. Sebab selain haram dan tidak ada urgensinya salam lintas agama adalah wujud dari toleransi ala pluralisme agama yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sudah saatnya umat Islam senantiasa memurnikan aqidah sebab itu merupakan salah satu bekal untuk menghadap Allah SWT kelak.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel