Maraknya Tawuran Bukti Rusaknya Generasi

 


Penulis : Ika Kusuma 

Berita tentang aksi tawuran yang semakin sering terdengar dan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia saat ini semakin meresahkan masyarakat.  Baru-baru ini sejumlah remaja yang tergabung dalam geng motor berhasil diamakan petugas karena terlibat aksi tawuran di daerah Ciomas, bahkan salah seorang dari mereka masih berumur 13 tahun. (Radar Bogor, 30 Juni 2024). 

Aksi serupa juga terjadi di kawasan Sidotopo Depo Surabaya, di mana 6 anggota gangster yang menamai diri mereka "Pasukan Angin malam" berhasil diringkus pihak kepolisian  ketika hendak melakukan aksi tawuran. (IDNtimes Jatim, 27 Juni 2024). 

Meskipun upaya pemberantasan telah dilakukan,  sejumlah kasus terus berulang, bahkan dengan pelaku dan tempat yang sama. Seperti halnya tawuran antar warga yang kembali terjadi di Jalan Basuki Rahmat (BASURA) Cipinang Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Tawuran yang melibatkan warga RT 01 dan warga RT 02 dipicu oleh aksi saling ejek kembali terjadi meskipun telah dibuat deklarasi damai pada tahun lalu. 

Kapolres Metro Jaktim Kombes Nicolas Ary Lilipaly menyebut ada sejumlah faktor pemicu tawuran terus terjadi, seperti faktor ekonomi, pendidikan, kehidupan sosial dan budaya serta kurangnya pengawasan orang tua. Muncul dugaan bahwa aksi tawuran sengaja dilakukan untuk konten karena dilakukan secara live di sosial media demi iming-iming cuan.(detiknews.com, 30 Juni 2024). 

Di tengah kehidupan masyarakat yang serba sulit dan rumit saat ini, masyarakat cenderung berpikir secara instan dan praktis. Sebagian dari mereka rela melakukan apa pun tanpa peduli norma aturan demi mendapatkan uang secara cepat, termasuk menjadikan ajang tawuran sebagai konten pendulang cuan melalui media sosial. Kemiskinan struktural tak bisa dihindari dalam sistem kapitalisme saat ini. Mereka yang bermodal semakin bebas berkuasa di tengah himpitan ekonomi rakyat kecil. Negara juga terbukti gagal melindungi rakyatnya dari segala problematika dampak sistem yang amburadul  saat ini. 

Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan juga turut andil membentuk generasi yang serba instan dan minim akhlak. Mereka seakan kehilangan pedoman  dan tak mampu berpikir jernih ketika dihadapkan pada permasalahan hidup. 

Sistem kapitalisme juga telah membentuk budaya hidup hedon dan materialistik. Kesuksesan dan pencapaian hanya diukur dari materi tanpa mempedulikan nilai dan norma. Kekerasan semakin marak terjadi dan tak lagi terhindarkan ketika hukum juga dijadikan objek yang bisa diperjualbelikan. 

Ancaman kerusakan peradaban dan generasi sangat mungkin terjadi dalam sistem kapitalisme dan ini tak bisa disepelekan. Ketika fungsi keluarga tak bisa lagi berjalan dengan baik karena tuntutan ekonomi yang serba sulit, bergesernya peran ibu di tengah isu feminisme menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini semakin diperparah dengan kehidupan masyarakat yang individualis dan minim empati. 

Kerusakan umat hari ini  mulai dari sistem pendidikan, pemerintahan, ekonomi, dan kehidupan sosialnya semestinya menyadarkan kita bahwa ada yang salah dengan sistem yang berlaku saat ini. Solusi tuntas permasalahan umat saat ini adalah membenahi sistem sebagai akar masalah persoalan umat. 

Negara harusnya berperan sebagai raa'in (pemelihara umat) seperti  halnya dalam sistem Islam kaffah sehingga negara mampu mengambil kebijakan semata untuk kepentingan umat secara berdaulat tanpa intervensi dari pihak tertentu ataupun golongan. Dalam sistem Islam Kaffah, kenakalan remaja  menjadi perhatian utama negara karena berkaitan dengan kehidupan generasi nantinya. Negara punya andil besar menjaga generasi dengan menerapkan sistem pendidikan yang menjadikan akidah sebagai pondasi pendidikan, metode pengajaran, dan metode berpikirnya. 

Pendidikan dalam Islam bertujuan melejitkan potensi istimewa dari setiap umat sebagai pemakmur bumi dan pelaksana syariat Allah. Pendidikan dalam Islam fokus membangun generasi yang berkepribadian Islam, di mana pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) bersandar pada akidah Islam sebagai asas kehidupan setiap muslim. Pendidikan Islam juga membentuk generasi yang mampu menjadi ahli dan pakar dalam tiap bidangnya, baik dalam bidang ilmu sains maupun ilmu Islam ( ijtihad, fikih, peradilan). Hal ini telah terukir indah dalam sejarah ketika peradaban Islam mampu melahirkan generasi cemerlang, seperti halnya Muhamad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel ataupun ahli sains seperti sosok Jabir Ibnu Hayyan (perintis teori molekul), Al-Khawarizmi (peletak dasar alogaritma), Al-Farghani (perintis astronomi modern), Al-Jazari (bapak ilmu teknik modern), Ibnu Sina (dokter terhebat dalam sejarah Islam), hingga Al-Dinawari (bapak botani Islam). 

Peran keluarga terutama ibu juga tak akan terganggu ketika negara telah menjamin kesejahteraan umatnya dengan sistem ekonomi Islam yang khas. Negara memastikan setiap kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan keluarganya dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang luas dan layak.Masyarakat juga tak perlu lagi dipusingkan dengan biaya pendidikan, kesehatan dan transportasi karena negara telah menjamin agar layanan tersebut mudah diakses dengan biaya murah, bahkan gratis. 

Dari segi keamanan, negara memberikan jaminan dan penjagaan bagi setiap warganya, baik dari bahaya yang mengancam fisik maupun akidah dengan menetapkan sanksi yang tegas untuk setiap pelanggaran sesuai hukum syariat. Setiap sanksi mampu menghadirkan efek jera bagi pelaku dan nilai pembelajaran bagi yang menyaksikannya sehingga mencegah kejahatan serupa terulang. Tak ada istilah jual beli hukum dalam Islam karena yang berhak membuat aturan adalah Allah melalui Al-Qur'an dan hadis sebagai dasar hukumnya. Hal ini menjamin aturan tak bisa diubah seenaknya seperti dalam sistem saat ini. Maka jelas sudah, hanya sistem Islam yang mampu menghadirkan solusi tuntas untuk permasalahan umat saat ini.

 Wallahu Alam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel