Kesesuaian Teknologi Pertanian Dengan Kebutuhan Para Petani



Oleh : Dewi Kania

Tak bisa kita pungkiri, perkembangan teknologi saat ini semakin maju. Hal tersebut merambah ke berbagai sektor sehingga semakin memudahkan kita dalam segala hal. Sebagaimana contoh,  Para petani di desa Ciparay, Kecamatan Ciparay, kabupaten bandung dikenalkan sistem pertanian yang berbasis teknologi. Teknologi tersebut memudahkan para petani khususnya dalam pemupukan padi bisa dilakukan menggunakan drone.

Drone tersebut memakai pupuk cair NPK Phonska Alam. Kemudian drone tersebut terbang ke berbagai area yang diinginkan untuk melakukan pemupukan melalui jalur udara.

Dilihat detik jabar pada jumat (21/6/2024), ukuran drone tersebut berbeda dari biasanya. Namun drone tersebut dilengkapi wadah penampungan untuk pupuk cair. Drone kemudian diuji coba untuk terbang di atas lahan pertanian.

Salah satu petani, Ridwan Sanjaya mengatakan adanya teknologi tersebut membantu para petani seiring berkembangnya zaman. “Iya bagus sih. Soalnya anak muda sekarang pada malu jadi petani. Padahal kalau jadi petani juga sebetulnya bisa menguntungkan,” ujar Ridwan, kepada awak media di Ciparay, Jumat (21/6/2024). Menurutnya adanya drone tersebut bisa mempermudah dalam masa tanam. Kemudian, kata dia, bisa mengurangi ongkos biaya untuk buruh tani. “Adanya drone itu sebetulnya bisa mempermudah, mengurangi cost atau biaya untuk buruh tani, karena tadi, kita para petani kesulitan mencari petani baru,” katanya.

Kehadiran teknologi di tengah-tengah para petani kita,  bisa dikatakan hebat.  Tetapi kita juga harus  melihat, apakah kehadiran teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan yang para petani butuhkan, efektifkah atau justru sebaliknya?

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan jika ingin menggunakan teknologi ini yaitu kondisi tanaman, lingkungan, kondisi petani, budgeting, dan sarana prasarananya.

Penyerapan unsur hara oleh tanaman bisa melalui dua cara yaitu diserap melalui akar dan melalui mulut daun (stomata). Dengan demikian tidak semua jenis tanaman pertanian efektif menggunakan drone dalam pemberian pupuknya. Pemupukan dengan menggunakan drone tentunya harus menggunakan pupuk cair, yang harganya tentu jauh lebih mahal dari pada pupuk briket yang biasa disebar manual oleh para petani. Selain itu maksimal setelah 15 menit pemupukan harus segera dilakukan pembilasan dengan menggunakan air bersih terhadap tanaman tersebut, terutama tanaman lunak, yang tentunya petani harus menyediakan drone yang lain, karena apabila hanya menggunakan satu drone yang bekas pemupukan, maka alat penampung pupuk yang dipakaikan ke drone harus bersih.

Apalagi kondisi lingkungan pertanian di Kabupaten Bandung, khususnya Ciparay, tidaklah merupakan lahan terbuka sangat luas. Jenis tanaman yang ditanam oleh para petani cenderung heterogen dan diselingi oleh lingkungan pemukiman penduduk juga.

Memang benar, Generasi muda sekarang kebanyakan kurang tertarik pada pertanian, sehingga berpengaruh kepada kurangnya pengelola pertanian dan buruh tani. Kehadiran drone sangatlah tepat mengatasi masalah kurangnya tenaga kerja di bidang pertanian. Tapi pada kenyataannya tidak semua petani telah siap menyambut kedatangan teknologi pertanian ini. Karena alat ini harganya  tidak terjangkau oleh semua petani. Disamping tidak semuanya petani paham akan teknologi sehingga kebanyakan lebih mempertahankan sistem pertanian secara tradisional.

Dengan demikian haruslah ada peran negara untuk memajukan para petani. Negara harus bisa menyediakan sarana dan prasarana pertanian bagi para petani sekaligus mengedukasi para petani sehingga petani siap menghadapi perkembangan teknologi.

Dengan hadirnya teknologi pertanian tentunya diharapkan hasil pertanian bisa lebih berkualitas dan melimpah. Tetapi pada kenyataannya dengan melimpahnya hasil pertanian tidak menjamin petani menjadi untung, namun ada kalanya petani malah rugi. Karena pada saat panen harga hasil pertanian malah anjlok sangatlah tidak dihargai. Tidak sedikit para petani yang malah menjadi rugi. Dengan demikian, negara juga harus mampu menjaga kestabilan harga hasil pertanian di pasaran, agar petani tidak menjadi rugi. Disinilah peran negara sangat dibutuhkan dalam manajemen distribusi sehingga menjamin petani menikmati kesejahteraan dari panen yang dihasilkan.D

Dalam sistem islam negara akan membuat kebijakan industri berbasis industri berat. Politik industri akan mengarah pada kemandirian industri dengan membangun alat-alat produksi. Sehingga dapat menopang teknologi untuk pertanian secara mandiri. Negara juga akan memaksimalkan kemandirian riset terkait pertanian.  Kemajuan pangan dan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan yang akan dimanfaatkan masyarakat bukan untuk bisnis atau keuntungan oligarki seperti saat ini. Negara juga akan mengoptimalkan dana anggaran baitul mal untuk membiayai subsidi kepada para petani, sehingga ketika ada perkembangan teknologi seperti saat ini mereka bisa menjangkaunya.

Wallahu 'alam bi showwab

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel